Unhas Gelar KKN Bertemakan Perhutanan Sosial


Bagikan Bagikan
Blog Single
Pagi tanggal 23 Juni 2021, saya mengikuti acara Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas). Kegiatan ini dilakukan secara daring. Pelepasan KKN secara simbolis virtual dilakukan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi Republik Indonesia, A. Halim Iskandar. Sebelumnya selama dua hari, Senin dan Selasa, 21 dan 22 Juni 2021, telah dilakukan pembekalan materi-materi dasar perhutanan sosial. Narasumber berasal dari akademisi Unhas, staf Balai Perhutanan Sosial dan Lingkungan Hidup (BPSKL) Sulawesi, anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial (TP2PS), anggota
Pokja Provinsi Perhutanan Sosial (Pokja PPS) Sulawesi Selatan, serta pendamping dari unsur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dalam catatan saya, kegiatan KKN ini menarik dan inspiratif. Ada beberapa alasan yang mendasari. Pertama, sejauh ini insitiaf KKN tematik perhutanan sosial tersebut bisa jadi merupakan salah satu KKN pertama di Indonesia yang langsung menyasar isu dan praktik perhutanan sosial, utamanya saat pandemi. Patut diberi apresiasi kepada Unhas, khususnya Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata (P2KKN), yang telah mengusung isu perhutanan sosial di pelaksanaan KKN mahasiswa tersebut.

Kedua, KKN tematik perhutanan sosial ini disiapkan berbasis domisili dari para mahasiswa. Sebagai informasi, ada hampir 2.100 mahasiswa yang terlibat. Mereka berasal dari berbagai provinsi dari barat sampai timur Indonesia. Terkait hal ini, Dinas Kehutanan Provinsi serta Pokja PPS Sulawesi Selatan berhasil melakukan kerja-kerja ciamik kreatif dengan Unhas untuk menumbuhkembangkan pemahaman dan dukungan terhadap perhutanan sosial dari para mahasiswa yang berasal dari beragam fakultas. Mengingat masa pandemi yang masih berlangsung, para mahasiswa akan melakukan KKN di daerah asalnya masing-masing. Inilah yang tadi saya sebut sebagai berbasis domisili.

Rata-rata mahasiswa memang sudah berada di kampung halaman sendiri untuk kuliah daring di masa pandemi. Dari hampir 2.100 mahasiswa ini, domisilinya tidak hanya di Sulawesi Selatan. Domisili lainnya adalah di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi belasan provinsi dan puluhan kabupaten akan merasakan secara bersama selama dua bulan gaung KKN bertemakan perhutanan sosial ini.

Ketiga, kontribusi sejak awal yang dilakukan ribuan mahasiswa bisa langsung responsif terhadap kebutuhan dukungan perhutanan sosial di tingkat tapak. Apakah yang mungkin bisa dilakukan para mahasiswa ini? Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (PKPS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Erna Rosdiana, yang turut memberikan paparan pada acara  pelepasan mahasiswa KKN Universitas Hasanudin pada tanggal 23 Juni 2021 mengatakan bahwa mahasiswa bisa mengambil peran dalam memfasilitasi dan mendampingi para kelompok petani dan kelompok masyarakat dalam pengajuan persetujuan Perhutanan Sosial. Selain itu mahasiswa KKN juga bisa mulai belajar untuk melakukan pendampingan terhadap kelompok petani dan masyarakat yang sudah mendapatkam izin/persetujuan perhutanan sosial. Menurut saya, apa yang disarankan Direktur PKPS sangat relevan terlebih jika dikaitkan dengan beragamnya fakultas yang terlibat dalam KKN ini. Perhutanan sosial memang membutuhkan dukungan dan kerjasama lintas disiplin ilmu, termasuk dari mahasiswa yang segera melakukan KKN ini.

Terakhir, adalah catatan penting yang diberikan Menteri Desa dalam sambutannya pagi ini.Menteri Desa, seraya memberikan semangat kepada para mahasiswa, menjelaskan bahwa perhutanan sosial diyakini mampu berperan dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Desa atau Sustainability Development Goals (SDGs) Desa. Para mahasiswa diharapkan mampu melihat apa yang bisa dilakukan di desa masing-masing untuk bisa mengaitkan perhutanan sosial dengan SDGs Desa. Paparan ini jelas menunjukkan potensi maupun kontribusi nyata perhutanan sosial dalam pencapaian SDGs Desa.

Sebagai penutup, melalui KKN ini, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi sekaligus belajar banyak dari masyarakat di desa di wilayahnya masing-masing sambil tetap menjalankan protokol kesehatan. Semoga sesudah selesai masa KKN ini akan makin banyak generasi muda yang siap bekerja bahu membahu mendukung pengembangan perhutanan sosial dari berbagai disiplin ilmu. Juga akan ada inisiatif-inisiatif serupa KKN ini yang bisa dilakukan universitas-universitas lainnya di seluruh Indonesia. Maju terus perhutanan sosial.

Swary Utami Dewi
(TP2PS)